Kami untuk mereka yang miskin, hidup dalam kepenuhan. Kepercayaan adalah modal, tekat untuk mewujudkan

Home arrow Chart PAPAN
Delema Perpustakaan di Aceh Barat PDF Print E-mail
Written by PAPAN Aceh   
Wednesday, 04 June 2008

Sungguh sangat delematis sarana dan prasarana perpustakaan yang ada di Aceh Barat sekarang ini. Kurangnya minat baca anak sekolah maupun masyarakat di Aceh menjadi keprihatinan kita semua

Delema Perpustakaan di Aceh Barat

Sungguh sangat delematis sarana dan prasarana perpustakaan yang ada di Aceh Barat sekarang ini. Kurangnya minat baca anak sekolah maupun masyarakat di Aceh menjadi keprihatinan kita semua. Survai telah menunjukkan bahwa minat baca guru kelas maupun siswa  di setiap sekolah dinilai masih sangat kurang. Terbukti dari terbengkalainya perpustakaan sekolah maupun kemerosotan mutu pendidikan di Aceh Barat. Hal ini berimbas pada menurunnya kualitas pendidikan, sehingga dari hasil UAN untuk seluruh siswa tingakat SD sampai SMU di Aceh Barat masih menunjukan angka di bawah rata-rata. Di NAD sendiri terdapat 8 perpustakaan umum hancur total pasca gempa dan tsunami. Data mengenai perpustakaan umum lainnya belum didapatkan secara rinci.

 Kondisi Perabotan                       

Pasca gempa dan tsunami lantai dasar perpustakaan banyak barang yang rusak berat bahkan banyak yang tidak bisa dimanfaatkan. Sementara lantai atas lebih banyak di gunakan untuk arsif. Perabotan dan barang-barang lain di lantai atas sebetulnya tidak mengalami kerusakkan akibat gempa atau tsunami, akan tetapi sebagian besar perabotan, peralatan elektronik, serta  barang yang cepat dijual rusak dan hilang. Lemari, laci-laci meja  dan brankas juga rusak.  Buku, dokumen dan arsip berserakan di lantai.

 Koleksi 

Minimnya buku-buku koleksi anak-anak menjadikan anak-anak merasa enggan berkunjung ke perpustakaan. Begitu juga koleksi remaja dan dewasa dirasakan sangat-sangat kurang. Sebagian besar koleksi  yang terletak di lantai dasar banyak yang musnah. Koleksi deposit di lantai II sebagian besar masih utuh, sebagian diselamatkan oleh Kepala Bidang Deposit. Untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Aceh barat ini perlu keterlibatan pemerintah daerah dalam memahami persoalan ini. Perpustakaan Nasional, sebagai pembina semua jenis perpustakaan di Indonesia wajib untuk merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi berbagai jenis perpustakaan di NAD pasca bencana.

Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Nasional RI, dan berdasarkan permintaan DPR RI, Bappenas, dan Menko Kesra, serta berbagai pihak dari dalam dan luar negeri yang peduli terhadap kondisi Perpustakaan di NAD, maka Perpustakaan Nasional RI wajib mengadakan ekspedisi berbagai jenis perpustakaan, dokumentasi, dan informasi di NAD pasca bencana. Dari hasil pantauan diknas pendidikan memang selama konflik sarana pendidikan masih belum mendukung sebagai sarana belajar. Di perpustakaan pusat Aceh Barat saja kunjungan tiap harinya   tidak lebih dari 10 orang. Semenatara untuk pegawai perpustakaan pusat dinilai terlalu banyak pegawainya. Pegawai perpustakaan untuk perpustakaan pusat masih dinilai masih sangat kurang minat bacanya.

 

Kurangnya sarana pendukung

 Untuk memperbaiki minat baca yang masih sangat kurang perlu adanya perbaikan dan penambahan sarana yang lebih mendukung. Sebagai perpustakaan pusat masih banyak kekurangan sarana yang mendukung. Pertama. Sumber daya personalia perpustakaan juga masih sangat kurang kemampuannnya dalam mengelola perpustakaan. Kedua, buku-buku bacaan yang ada masih sangat kurang dan belum ada buku-buku yang bisa menarik minat baca masyarakat. Sehingga masyarakat jenuh untuk datang ke perpustakaan, karena yang ada hanya buku pelajaran dan itu pun sudah cetakkan lama. Sementara buku-buku baru masih belum ada.  Ketiga, pemerintah sendiri belum mampu untuk menarik masyarakat dalam mengembangkan minat baca. Bahkan seperti masyarakat sekitar sendiri mengaku belum pernah masuk di perpustakaan pusat. Seolah-olah perpustakaan ini hanya sebagai pajangan semata. Minat baca pelajar atau masyarakat sekitar dirasa memang sangat kurang sekali.

Dari hasil laporan Ibu Win dan Ibu Dina bahwa perpustakaan di Meulaboh ini belum mampu menarik minat baca masyarakat sekitarnya. Bahkan masyarakat di depan dan di sekitar perpustakaan pusat ini belum pernah berkunjung selama berdirinya perpustakaan ini. Kampanye untuk menumbuhkan daya baca masyarakat perlu adanya revitalisasi sejak dini. Dari hasil laporan mereka rata-rata pengunjung perpustakaan perharinya tidak lebih dari 5 orang. Sedangkan tenaga personalia perpustakaan yang ada sebanyak 25 orang/staf. Jelas ini tidak sebanding dengan jumlah rata-rata kunjunganorang.

            Kurang daya tariknya minat baca masyarakat Aceh Barat ini menjadikan persoalan yang serius terhadap mutu pendidikan dan juga minimnya dunia membaca masyarakat. Hal ini juga menjadi keprihatinan bagi kita semua untuk memajukan minat baca masyarakat Aceh Barat. Kalau di banding dengan daerah-daerah lain memang sangat ketinggalan perpustakaan di Aceh Barat. Sumber daya manusia pengelola perpustakaan belum sepenuhnya memberikan kontribusi yang berarti, justru banyak pegawai perpustakaan yang tidak bisa tenang di ruang perpustakaan/ruang baca. Ada kalanya menyalakan musik yang agak keras sehingga mengganggu pembaca. Menegemen yang kacau adalah tidak adanya buku pengunjung, penataan buku masih kacau, tidak ada catalog perpustakaan, buku masih terbengkalai penataannya. Selain itu juga belum ada computer dan sarana yang mendukung untuk memajukan perpustakaan daerah ini. Kedisiplinan yang masih kurang personalia maupun pengunjung terasa masih kurang. 

 

             Perlunya peran pemerintah

 

            Dana rehab-rekon untuk Aceh yang begitu besar, belum keseluruhannya terabsorb untuk memperbaiki mutu pendidikan. Justru rehab-rekon lebih banyak menitikberatkan pada bangunan fisik semata. Sementara banyak sarana pendidikan yang terbengkalai dan belum di kelola dengan baik. Hal yang paling kelihatan adalah wacana penunjang seperti membangun cakrawala keilmuan untuk perpustakaan justru sama sekali kurang disentuh. Banyak sekali perpustakaan di sekolah-sekolah umum yang tidak cukup dengan referensi buku penunjang. Bahkan perpustakaan pusat di Aceh Barat masih sangat delematis, baik referensi buku maupun menejemen perpustakaannya sendiri.

            Dari hasil rehab-rekon yang dilakukan pemerintah maupun NGO telah berdiri ratusan bahkan ribuan sarana pendidikan, namun hal yang penting dan mendasar justru sering terlupakan, seperti penyediaan guru dan fasilitas pendukung untuk pendidikan anak didik  seperti perpustakaan.  Sehebat apapun bangunan fisik sekolah namun tanpa adanya sarana pendukung seperti referensi buku-buku mustahil akan melahirkan generasi penerus yang handal.

 

 

 Ditulis: Riset Yayasan PAPAN Meulaboh

 

           

 

 
Next >